Pre Test
Introduction
Nervous System and Brain Anatomy
Cranial Nerves and Special Senses

Medulla Spinalis and Cranial Nerve Material

Karena tadi sudah nontonn videonya, admin mau coba rangkum dan jabarin yaa mengenai Medulla Spinalis and Cranial Nerve
Setelah mempelajari bagian ini diharapkan dapat:
– Menjelaskan anatomi dan fungsi medulla spinalis, termasuk perbedaan substansia grisea dan alba serta jalur sensorik dan motorik utama.
– Menjelaskan peran medulla spinalis sebagai pusat refleks dan jalur komunikasi antara otak dan tubuh.
– Mengidentifikasi 12 pasang saraf kranialis (CN I–XII) beserta fungsi sensorik, motorik, dan otonomnya.
– Menghubungkan struktur dan fungsi saraf kranialis dengan gejala klinis yang timbul akibat lesinya.

I. Medulla Spinalis
Medulla spinalis adalah bagian dari sistem saraf pusat (SSP) yang terletak di dalam kanalis vertebralis, dimulai dari foramen magnum (lanjutan dari medulla oblongata) hingga kira-kira setinggi vertebra lumbalis 1–2 pada orang dewasa.

Secara anatomi, medulla spinalis dibungkus oleh tiga lapisan meninges:
– Duramater spinalis
– Arachnoid mate
– Piamater

Ruang di antaranya berisi cairan serebrospinal (LCS) yang melindungi sumsum dari trauma mekanis.
Medulla spinalis memiliki 31 segmen, yang masing-masing mengeluarkan sepasang saraf spinal (nervi spinales):


– 8 servikal (C1–C8)
– 12 torakal (T1–T12)
– 5 lumbal (L1–L5)
– 5 sakral (S1–S5)
– 1 kokigeal (Co1)

Substansia Grisea dan Alba (Grey and White Matter)

Jaringan saraf dalam sistem saraf pusat (SSP) terdiri dari akson dan badan sel neuron. Akson dibungkus oleh mielin, suatu zat lemak yang berwarna hampir putih — sehingga bagian otak atau medulla spinalis yang kaya akan serabut bermielin disebut substansia alba (white matter).

Sebaliknya, area yang lebih banyak mengandung badan sel neuron dan relatif sedikit mielin tampak lebih gelap, disebut substansia grisea (grey matter). Pada penampang melintang sumsum tulang belakang,
substansia grisea tersusun membentuk pola menyerupai kupu-kupu di sekitar kanalis sentralis (saluran tengah yang berisi cairan serebrospinal).

Bagian Deskripsi Fungsi
Substansia grisea (grey matter) Terletak di bagian dalam, berbentuk seperti huruf “H” atau “kupu-kupu” Mengandung badan sel neuron, interneuron, dan nukleus motorik
Substansia alba (white matter) Terletak di bagian luar grey matter Mengandung serabut saraf bermielin yang membentuk traktus naik (sensorik) dan turun (motorik)

Traktus Asenden (Sensorik)
Berfungsi untuk menghantarkan impuls sensorik dari perifer ke otak.

Traktus Jalur & Fungsi Informasi yang Dihantarkan
Tractus spinothalamicus lateralis Dari reseptor kulit → medulla spinalis → thalamus Nyeri dan suhu
Tractus spinothalamicus anterior Dari reseptor mekanik kulit → thalamus Tekanan dan sentuhan kasar
Fasciculus gracilis & cuneatus (dorsal column) Dari reseptor kulit, otot, sendi → medulla oblongata → thalamus Sentuhan halus, posisi (proprioseptif), getaran
Tractus spinocerebellaris Dari proprioseptor → cerebellum Keseimbangan dan koordinasi otot bawah sadar

 

Traktus Desenden (Motorik)
Berfungsi menghantarkan impuls motorik dari otak ke efektor (otot dan kelenjar).

Traktus Asal – Tujuan Fungsi
Tractus corticospinalis (piramidal) Korteks motorik → neuron motorik di medulla spinalis Mengontrol gerak sadar halus (volunter)
Tractus rubrospinalis Nucleus ruber (midbrain) → medulla spinalis Mengatur tonus otot fleksor
Tractus vestibulospinalis Vestibular nucleus → medulla spinalis Menjaga keseimbangan & postur tubuh
Tractus reticulospinalis Reticular formation → medulla spinalis Mengatur refleks dan tonus otot dasar
Tractus tectospinalis Colliculus superior → medulla spinalis Koordinasi refleks kepala terhadap rangsang visual

Korelasi Klinis Medulla Spinalis

Kelainan / Lesi Lokasi Gejala Klinis
Transektion total medulla spinalis Cedera transversal penuh Paralisis total & kehilangan sensasi di bawah tingkat lesi
Hemiseksi medulla spinalis (Brown-Séquard Syndrome) Lesi separuh sisi medulla Kehilangan fungsi motorik ipsilateral + kehilangan sensasi nyeri kontralateral
Lesi dorsal column Posterior funiculus Hilangnya sensasi posisi & getaran ipsilateral
Lesi lateral corticospinal tract Lateral funiculus Spastik paralisis kontralateral
Poliomyelitis Cornu anterior Paralisis flasid akibat kerusakan neuron motorik bawah
Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) Corticospinal & anterior horn Kelemahan progresif, spastik & atrofi otot

 

II. Cranial Nerve

Saraf kranialis (cranial nerves) adalah 12 pasang saraf perifer yang keluar langsung dari batang otak (brainstem) dan struktur terkait otak depan.
Berbeda dengan saraf spinal, yang keluar dari medulla spinalis, saraf kranialis menginervasi struktur kepala dan leher serta beberapa organ viseral (misalnya jantung dan organ pencernaan melalui N. vagus).

Fungsi Umum Saraf Kranialis
– Sensorik murni → menerima rangsangan dari pancaindra.
Contoh: N. olfaktorius (penciuman), N. optikus (penglihatan), N. vestibulokoklearis (pendengaran & keseimbangan).
– Motorik murni → mengontrol gerak otot rangka atau otot viseral.
Contoh: N. okulomotorius, N. troklearis, N. abducens, N. aksesorius, dan N. hipoglosus.
– Campuran (sensorik + motorik) → membawa impuls sensorik sekaligus motorik.
Contoh: N. trigeminus, N. fasialis, N. glosofaringeus, N. vagus.

No. Nama Saraf (Latin) Jenis Fungsi Utama Foramen / Jalur Keluar Lesi Klinis Umum
I N. Olfactorius (Olfactory nerve) Sensorik Penciuman Foramen kribriform, os etmoid Anosmia (hilang penciuman)
II N. Optikus (Optic nerve) Sensorik Penglihatan Canalis opticus Hemianopsia, kebutaan satu mata
III N. Okulomotorius (Oculomotor nerve) Motorik Gerak bola mata, elevasi kelopak, kontraksi pupil Fissura orbitalis superior Ptosis, diplopia, pupil dilatasi
IV N. Troklearis (Trochlear nerve) Motorik Menggerakkan bola mata ke bawah dan lateral (M. oblique superior) Fissura orbitalis superior Kesulitan melihat ke bawah, diplopia vertikal
V N. Trigeminus (Trigeminal nerve) Campuran Sensorik wajah, motorik otot pengunyahan Tiga cabang: V1 (fissura orbitalis sup.), V2 (foramen rotundum), V3 (foramen ovale) Neuralgia trigeminal, hilang sensasi wajah
VI N. Abducens (Abducens nerve) Motorik Menggerakkan bola mata lateral (M. rectus lateralis) Fissura orbitalis superior Mata tidak bisa abduksi, diplopia horizontal
VII N. Fasialis (Facial nerve) Campuran Ekspresi wajah, pengecapan 2/3 anterior lidah, sekresi air mata & ludah Meatus akustikus internus → foramen stylomastoideum Bell’s palsy (kelumpuhan wajah ipsilateral)
VIII N. Vestibulokoklearis (Vestibulocochlear nerve) Sensorik Pendengaran & keseimbangan Meatus akustikus internus Tuli sensorineural, vertigo
IX N. Glosofaringeus (Glossopharyngeal nerve) Campuran Rasa 1/3 posterior lidah, refleks muntah, sekresi parotis Foramen jugulare Kehilangan refleks muntah, gangguan menelan
X N. Vagus (Vagus nerve) Campuran Mengatur fungsi viseral (jantung, paru, pencernaan), fonasi, menelan Foramen jugulare Suara serak, disfagia, gangguan otonom viseral
XI N. Aksesorius (Accessory nerve) Motorik Menggerakkan M. sternokleidomastoideus dan trapezius Foramen jugulare Kesulitan memutar kepala atau mengangkat bahu
XII N. Hipoglosus (Hypoglossal nerve) Motorik Gerakan lidah Canalis hypoglossi Lidah deviasi ke sisi lesi saat dijulurkan

Secara fungsional, saraf kranialis dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Kategori Saraf yang Termasuk Fungsi Utama
Sensorik Khusus I, II, VIII Penciuman, penglihatan, pendengaran & keseimbangan
Sensorik Umum (somatik) V, IX, X Sensasi wajah, faring, telinga
Motorik Somatik III, IV, VI, XI, XII Gerakan mata, lidah, leher
Motorik Visceral (Parasimpatis) III, VII, IX, X Sekresi kelenjar, kontraksi pupil, kontrol viseral
Campuran (sensorik + motorik) V, VII, IX, X Kombinasi sensasi dan gerakan di kepala & leher

Korelasi Klinis

Saraf Lesi atau Gangguan Gejala Klinis
N. Olfactorius (I) Trauma pada lamina kribriformis Hilangnya penciuman (anosmia)
N. Optikus (II) Tekanan intrakranial / tumor hipofisis Hemianopsia bitemporal
N. Okulomotorius (III) Kompresi aneurisma PCA Pupil dilatasi, ptosis
N. Fasialis (VII) Infeksi virus / trauma tulang temporal Bell’s palsy (kelumpuhan wajah unilateral)
N. Vestibulokoklearis (VIII) Lesi pada nervus atau koklea Vertigo dan gangguan keseimbangan
N. Glosofaringeus (IX) Lesi batang otak Kehilangan refleks muntah
N. Vagus (X) Cedera pasca operasi leher Suara serak, disfagia
N. Hipoglosus (XII) Stroke atau trauma basis kranium Deviasi lidah ke sisi lesi