Pre Test
Introduction
Nervous System and Brain Anatomy
Cranial Nerves and Special Senses

Ventricles and Cerebral Vascularity Material

Karena tadi sudah nontonn videonya, admin mau coba rangkum dan jabarin yaa mengenai Sistem Venrikel dan Perdarahan cerebri
Setelah mempelajari bagian ini diharapkan dapat:
– Menjelaskan sistem vaskularisasi otak termasuk sistem karotis interna dan vertebrobasilar.
-Menggambarkan struktur dan fungsi Circle of Willis serta implikasi klinisnya.
-Menjelaskan sistem ventrikel dan aliran CSF secara lengkap.

I. SISTEM VENTRIKEL
A. Struktur
Ventrikel mewakili ujung rostral kanalis sentralis tabung saraf. Perluasannya di bagian ujung tabung saraf ini terbagi menjadi dua ventrikel lateral, ventrikel tersius di garis tengah, akuaduktus serebrum, dan ventrikel kuartus di garis tengah

1. Ventrikel lateral merupakan rongga di dalam masing-masing hemisfer serebrum 
a. Masing-masing ventrikel lateral memiliki tiga tanduk yang membentang ke dalam lobus frontalis, temporalis, dan oksipitalis.
b. Masing-masing ventrikel lateral bermuara ke dalam ventrikel tersius melalui foramen interventrikular (foramen Monro)

2. Third Ventricle, rongga semu-celah yang terletak antar talamus, bersinambungan dengan akuaduktus serebrum di sebelah inferior.

3. Saluran berbentuk pipa atau akuaduktus serebrum (dari Sylvius) terletak pada otak tengah dan menghubungkan ventrikel tersius dan ventrikel kuartus

4. Ventrikel kuartus terletak pada pons di balik serebelum.
a. Di sebelah inferior, ventrikel kuartus membentang sampai kanalis sentralis medula spinalis.
b. Ventrikel kuartus berhubungan dengan sisterna magna kavum subaraknoidal (terletak di antara medula dan serebelum) melalui tiga lubang pada atapnya, yakni foramen Magendii di tengah dan dua foramen Luschka di lateral.

B. Cairan Serebrospinal/ Cerebrospinal Fluid (CSS/CSF)
CSF adalah cairan jernih yang mengisi ventrikel otak, kanalis sentralis medulla spinalis, dan ruang subaraknoid. Total volume ±150 mL (mengalir dan diperbarui ±3 kali per hari).
Fungsi CSF:
– Melindungi otak dan medulla spinalis dari trauma (fungsi peredam benturan)
– Menjaga tekanan intrakranial tetap stabil
– Mengatur lingkungan kimia neuron (homeostasis ionik)
– Mengangkut sisa metabolik dari sistem saraf pusat

II. BRAIN VASCULARITY

A. Gambaran umum
Otak adalah organ metabolik yang tinggi. Sementara otak hanya menyusun 2% berat badan, otak mempergunakan sekitar 20% suplai darah. Otak memerlukan sirkulasi darah yang cukup dan tetap. Dengan segera iskemia menimbulkan kehilangan kesadaran, diikuti oleh kejang dan (karena neuron mulai mati setelah 4 menit) kematian otak.

B. Suplai arteri
Darah yang menuju otak disuplai oleh sepasang A. karotis interna dan sepasang A. vertebralis

1. Pembuluh nadi karotis
a. A. karotis komunins kanan berasal dari A. brakiosefalika, sementara A. karotis komunins kiri langsung berasal dari arkus aorta.
b. Pada leher, masing-masing A. karotis komunins bercabang dua menjadi:
– A. karotis eksterna, yang memperdarahi wajah dan neurokranium, dan
– A. karotis interna, yang memperdarahi otak.

(1) Pada bifurkasi karotis, reseptor sinus karotikus memantau tekanan darah, dan reseptor glomus karotikum memantau saturasi oksigen.
(2) Arteri ini merupakan instrumen refleks pengaturan denyut dan keluaran jantung.
      (a) Cabang karotis N. IX merupakan lengan aferen refleks.
      (b) N. vagus adalah lengan eferennya.

c. Secara bertahap A. karotis interna naik dari lubang kanalis karotikus, tepat di sebelah medial terhadap prosesus stiloid menuju prosesus klinoid anterior tulang sfenoidal.
(1) Di dalam kanalis karotikus, A. karotis interna dikelilingi oleh sarung pleksus serabut simpatis postganglionik.
(2) Pada bagian apeks tulang petrosus, A. karotis interna membelok ke atas dan medial sepanjang korpus tulang sfenoidal, selanjutnya membelok lagi ke arah anterior, di dalam sinus kavernosus.
(3) Sewaktu meninggalkan sinus kavernosus, nadi ini melengkung ke arah belakang, di bawah prosesus klinoid anterior dan N. optikus.
(4) Cabang oftalmika menyertai N. optikus dan mempercabangkan A. sentralis retina yang memasuki N. optikus.
(5) Cabang komunikans posterior melintas ke arah posterior, di atas N. okulomotorius.
(6) A. karotis interna bercabang menjadi arteri serebri anterior dan media.
(a) A. serebri anterior melintas ke arah dorsal, mengelilingi korpus kalosum pada dasar sulkus sagitalis, bersama pasangan sisi lawannya. Kedua nadi ini dihubungkan oleh cabang komunikans anterior.
      Arteri serebri anterior memperdarahi aspek medial lobus frontalis dan lobus parietalis korteks serebrum.
      (b) A. serebri media melintas ke arah superior pada fisura lateral.
(i) Nadi ini memperdarahi sebagian besar aspek lateral korteks serebrum.
      (ii) Cabang A. lentikulostriata memperdarahi ganglion basal, talamus, dan kapsula interna. Umumnya cabang ini merupakan tempat perdarahan atau trombosis yang menyebabkan pola yang dikenal
      paralisis sisi kontralateral, yang disebut stroke, oleh karena mendadak dan hancur secara alami.

2. Arteri vertebralis berasal dari arteri subklavia.
a. Arteri vertebralis ini melintasi foramen transversarium vertebra servikal keenam sampai pertama.
b. Nadi ini menembus dura mater dan araknoidea pada membran atlanto-oksipital.
c. Nadi ini melintasi foramen magnum dan naik pada klivus tulang basis oksipital, memberikan beberapa cabang.
(1) Arteri serebeli inferior–posterior melintas ke arah lateral, pada permukaan inferior serebelum. Nadi ini, kembali, memberikan arteri spinalis posterior.
    (2) A. spinalis anterior dibentuk oleh penyatuan sebuah cabang kecil dari masing-masing A. vertebralis. Arteri spinalis anterior ini turun pada fisura mediana anterior, di garis tengah medula.

d. Pada batas pontomedula, arteri vertebralis menyatu untuk membentuk A. basilaris yang memberikan
(1) A. serebeli anterior–inferior melintas dekat N. abducen, N. vestibulokoklearis, dan N. glosofaringeus. Masing-masing cabang anterior melintas ke arah lateral, di sisi superior terhadap serebelum.
    (2) Ada banyak cabang pontin yang kecil.
    (3) Pada batas anterior pons, A. basilaris memberikan arteri serebeli superior.
    (4) Pada tempat ini, A. basilaris bercabang dua menjadi arteri serebri posterior.
     Masing-masing arteri ini melintas ke arah lateral sepanjang pons, untuk memperdarahi permukaan tentorial lobus oksipitalis.
   (5) N. okulomotorius (N. III) keluar di antara A. serebeli superior dan A. serebri posterior.
    Seringkali aneurisma salah satu arteri ini mudah terlihat sebagai saraf yang tertekan.

3. Sirkulus arteriosus anastomotik (dari Willis).
Arteri karotis dan vertebralis saling beranastomosis pada permukaan ventral batang otak.

a. Struktur. Sirkulus arteriosus anastomotik (dari Willis) dibentuk oleh tujuh pembuluh:
(1) Arteri serebri anterior, cabang dari A. karotis interna.
(2) Cabang komunikans anterior, di antara arteri serebri anterior kanan dan kiri.
(3) Cabang komunikans posterior, di antara arteri karotis interna dan arteri serebri posterior.
(4) Arteri serebri posterior.

b. Fungsi. Sirkulus dari Willis merupakan lingkar yang sempurna pada 90% kasus, meskipun pada sejumlah besar kasus, nadi yang menghubungkan begitu kecil, sehingga seakan-akan kemaknaan fungsionalnya kecil.

(1) Penutupan salah satu dari pembuluh yang membentuk sirkulus dari Willis dapat ditanggulangi sebagian oleh aliran darah sebaliknya.
(2) Pembuluh yang menyusun sirkulus dari Willis berisiko terhadap pembentukan aneurisma berbentuk kantong kecil, yang mungkin pecah dengan perdarahan subaraknoidal yang membawa sakit kepala mendadak sangat hebat “thunderclap headache”.

4. Cabang utama. Arteri serebri melintas ke arah dorsal, mengelilingi sisi otak di dalam fisur yang dalam. Semua pembuluh nadi utama terletak pada kavum subaraknoidal.

a. Perdarahan subaraknoidal terjadi karena pecahnya pembuluh nadi yang mengalami ateromatosa atau aneurisma berbentuk kantong kecil. Pada kebanyakan korban, ada tahap perkembangan penyakit sebelum timbul serangan utama yang melumpuhkan. Mungkin ini melibatkan peristiwa sementara, seperti pusing, kelemahan, dan kehilangan daya ingat.
(1) Angiogram dapat digunakan untuk melokalisasi tempat blokade.
(2) Blokade atau aneurisma pembuluh serebral utama dapat ditangani secara pembedahan.

b. Perdarahan serebral dapat disebabkan oleh pecahnya pembuluh serebral di dalam parenkim otak (“stroke”) atau oleh trauma yang menembus. Ini tidak ada tindakan pembedahannya.